Polisi-Pekerja Bersimbah Darah
Hujan Batu di Engku Putri

TRIBUN-Halaman kantor Wali Kota Batam, Jl Engku Putri, bak ajang tawuran massal. Ribuan pekerja yang berunjukrasa menuntut upah terlibat bentrok dengan polisi, Kamis (11/12).
Polisi dan pekerja bersimbah darah. Sekitar sembilan pekerja mengalami luka akibat pentungan salah satunya Bung Frangky sekaligus ketua FSPMI Maruwa. Bahkan ada juga kepala yang bocor sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Begitu juga dari pihak polisi. Hujan batu selama 10 menit membuat beberapa anggota polisi terluka. Namun belum diperoleh kepastian berapa jumlah petugas yang terluka.
Pekerja menuntut upah minimum kota (UMK) Batam 2009 sebear Rp 1.350.000. Sebab dalam pembahasan dengan pengusaha beberapa waktu lalu, tidak terdapat kata sepakat. Pengusaha bertahan di angka Rp 960 ribu atau sama dengan upah tahun ini.
Konsentrasi pekerja yang berasal dari 33 perusahaan ini sejak pukul 08.00. Selama tujuh jam mereka menyuarakan perjuangan menuntut upah.
Sekitar pukul 11.00, perwakilan pekerja melakukan perundingan di lantai IV kantor Pemko Batam. Rapat dipimpin Asisten Ekonomi dan Pembangunan Syamsul Bahrum didampingi Kepala Satpol PP Azman, Kepala Dinas Tenaga Kerja Batam Rudi Sakyakirti, dan stafnya, dan pekerja.
Dalam pertemuan itu, belum ada kata sepakat besarnya upah yang akan diajukan ke gubernur. Sedangkan Gubernur Kepri Ismeth Abdullah telah menetapkan upah minimum provinsi (UMP) sebesar Rp 892 ribu.
Sekretaris Konsulat Cabang Federasi Serikta Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Bambang Mulai Setiawan ada lima perusahaan yantg tidak beroperasi gara-gara pekerja ikut demo.
“Kalau dinaikkan UMK akan membantu pekerja dengan jaring pengaman sosial bagi pekerja. Pengusaha sudah banyak diuntungkan dengan adanya selisih kurs dolar. Karena mereka selama ini mendapat order dengan nilai dolar,” katanya.
Kokom, seorang pekerja menyebut ia ikut libur dan mengganti kerja hari libur.
Hujan batu
Karena pertemuan tidak membuahkan kesepakatan, perwakilan pekerja turun ke bawah. Setelah berkumpul salah satu dari pekerja meminta perempuan untuk mundur dan laki-laki maju ke depan.
Dengan aba-aba tersebut polisi membuat pagar betis. Namun pekerja merangsek ingin masuk dan terjadi saling dorong antara pekerja dan petugas.
Pekerja yang berhadapan langsung dengan polisi didorong kawannya dari belakang sehingga polisi terdesak. Bersamaan dengan itu, terjadi hujan batu selama 10 menit ke arah polisi.
Selama demo berlangsung jalan Engku Putri lumpuh. Para polisi dan Satpol PP berjaga-jaga di depan kantor wali kota. Massa bergantian melakukan orasi. Pekerja memadati jalan engku putri mulai dari depan Masjid Raya, sampai depan kantor BI, bahkan sebagian pekerja dihalaman kantor Imigrasi dan kantor DPRD Batam.
Kendaraan yang mau masuk ke kantor Pemko, tidak bisa karena jalan menuju kesana dipadati pekerja.
Usai mengikuti rapat paripurna di kantor DPRD, Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika masuk dalam barisan pekerja untuk menenangkan mereka. Ria menyebut akan berusaha sekuat tenaga untuk memperjuangkan nasib buruh, tapi harus diambil kebijakan supaya pengusaha juga jangan sampai hengkang karena tidak mampu membayar.
“Kita mencari win-win solution. Saya mohon jangan sampai disusupi provokator. Di antara yang hadir ini bisa jadi sudah ada provokator sehingga terjadi lempar batu. Tujuan kita untuk menuntut supaya UMK naik tapi yang terjadi melakukan tindakan anarkis,” sesalnya.Ria sempat dilarang turun sebelum polisi membebaskan tiga pekerja. Setelah dibebaskan pekerja meminta Ria untuk berdoa dan pekerjapun meninggalkan tempat sekitar pukul 13.45 WIB.
